Ban Motor

Minggu kemarin ketika ingin berangkat dari kos, tiba-tiba ban sepeda motor bagian belakang kempes. Wow. Saya baru tersadar. Sudah lama juga untuk tidak mengganti ban. Terhitung sejak pertama datang di Bogor, motor ini baru sekali ganti ban belakang dan sekali untuk ban depan. Jadi sudah 3 tahun. Sebenarnya berapa lama ban motor itu bisa bertahan?

Kali ini saya akan fokus ke kilas balik kisah motor satu ini. Sekitar 3 tahun yang lalu motor ini dibeli dari tempat penjualan “second” (bisa jadi motor ini di tangan saya sudah berada di posisi kedua, ketiga, atau keempat). Pilihan jatuh pada motor Suzuki Smash 110.

Setelah melewati Puncak, tepat hari Jum’at tibalah motor ini di Bogor, di Dramaga. Layaknya motor bekas, banyak juga perubahan dan item-item yang mesti diganti. Dari ban, saringan udara, oli, behel, lampu (jadi, saran saya, belilah motor baru, atau kalau mau beli motor bekas, telitilah).

Walaupun begitu, motor ini sudah menemani saya dengan setia untuk berjuang di kehidupan kos-kampus, keliling kota Bogor, bolak-balik Dramaga-Baranangsiang yang sudah tak terhitung berapa kali, dibawa ke Jakarta ketika praktik kerja, ditilang polisi, dicakar kucing kosan (bisa dibuktikan pada jok bagian belakang), ban belakang yang selalu kempes (dulu), melewati hujan kota Bogor (dari skala gerimis sampai skala badai), lecet dikit di bagian depan (karena nyerempet mobil), anterin barang (dari kardus, komputer, monitor, tas, galon, pokoknya apa yang bisa diangkut). Dan kenangan lainnya…

Pernah suatu saat, ketika hendak pindah ke Bali. Terbersit pikiran untuk menjual motor ini. Walau akhirnya tidak jadi. Karena dia tetap diperlukan di sini. Sekarang, motor ini tetap sama seperti yang dulu. Menemani untuk ke kantor, ke kos, atau ke tempat lainnya. Betapa setianya dia. Sudah selayaknya dia dirawat dengan baik.

Tinggalkan sebuah Komentar

Meranggas

Besar, kokoh, tanpa daun
Meranggas, kering, mengharap air
Hanya tampaknya saja tidak ada
Tetapi nyatanya ada

Setelah musim berat berganti
Dengan daun-daun baru
Kembali menaungi bumi
Menghijaukan dunia

Kebun Raya Bedugul, Bali, 2008.

Komentar (3)

Nasib dan Asumsi

Ada suatu cerita dari seorang sufi yang bernama Nasrudin Hoja. Berikut kisahnya.

Ia ditanya mengenai artinya nasib. Lalu Nasrudin menjawab, “Asumsi-asumsi.” Lalu sang penanya bertanya kembali, “Maksudnya?” Nasrudin melanjutkan jawabannya, “Engkau menganggap bahwa segalanya akan berjalan baik, tetapi kenyataannya tidak begitu. Itu disebut nasib buruk. Atau, engkau punya asumsi bahwa hal-hal tertentu akan menjadi buruk, tetapi nyatanya tidak terjadi. Itu nasib baik namanya. Engkau punya asumsi bahwa sesuatu akan terjadi atau tidak terjadi, kemudian engkau kehilangan intuisi atas apa yang akan terjadi, dan akhirnya berasumsi bahwa masa depan tidak dapat ditebak. Ketika engkau terperangkap di dalamnya, maka engkau namakan itu nasib.”

Semoga dapat diresapi maknanya.

Tinggalkan sebuah Komentar